Refreshmen Imam dan Khatib Menuju Kemakmuran Masjid sebagai Basis Utama Dakwah (sebuah refleksi menjelang pelatihan Imam dan Khatib)

SEPUTAR MASJID • 30 Oct 2026 08:49 • Admin NA
Refreshmen Imam dan Khatib Menuju Kemakmuran Masjid  sebagai Basis Utama Dakwah  (sebuah refleksi menjelang pelatihan Imam dan Khatib)

Oleh: MA Syaripudin.

Dosen UIN Raden Intan Lampung 

nataragung.id - Bandar Lampung - Langkah strategis dalam rangka 2 (dua) tahun kiprahnya sebagai media informasi, media edukasi (termasuk Dakwah), media promosi, maupun media hiburan terpercaya, dengan menyelenggarakan Refreshmen (peningkatan kualitas) Imam dan Khatib pada Sabtu, (31/10/2026), di Masjid Nurul Islam Ciramai 2 Desa Banjar Negeri Kecamatan Natar Lampung Selatan. Tentu saja langkah ini merupakan bentuk kepedulian dari para punggawa nataragung.id yang 

dikomandani oleh H. Syahidan, MH.

Keagungan sebuah masjid tidak hanya dilihat dari megahnya arsitektur atau menaranya yang menjulang tinggi, melainkan dari kualitas imam yang memimpin shalatnya dan bobot khotbah dari khatibnya. Ketika imam dan khatib menjalankan perannya dengan penuh amanah, masjid akan berfungsi optimal sebagai pusat cahaya dan hidayah bagi masyarakat sekitarnya. Imam dan khatib memiliki kedudukan yang sangat mulia dan strategis dalam memakmurkan masjid, baik secara spiritual, sosial, maupun intelektual. Dalam peradaban Islam, masjid bukan sekadar tempat ibadah ritual belaka, melainkan pusat peradaban umat. Di sinilah peran imam dan khatib menjadi pilar utama yang menentukan hidup atau matinya fungsi masjid tersebut. Ada beberapa kedudukan penting imam dan khatib bagi kemuliaan masjid:

_Pewaris Tugas Rasulullah SAW_

Pemimpin Spiritual: Imam shalat adalah pengganti posisi Rasulullah SAW dalam memimpin ibadah ritual terbesar umat Islam. Kedudukan ini mensyaratkan kepribadia mulia bagi seorang pemimpin guna menjaga kesucian, kefasihan bacaan al-Quran, dan kedalaman ilmu agama.

Penyampai Risalah: Khatib di atas mimbar harus bertindak sebagai penyambung syiar dan dakwah Nabi. Setiap khatib memiliki tugas antara lain; Pertama menyampaikan seluruh pesan, syariat, dan hukum dari Allah SWT secara jelas dan terbuka (al-balagh al-mubin) tanpa ada yang dikurangi atau disembunyikan. Kedua, mengajak umat manusia untuk mengesakan Allah SWT, menyembah hanya kepada-Nya, dan menjauhi segala bentuk kemusyrikan. Ketiga memberikan kabar gembira berupa pahala, rahmat, dan surga bagi orang-orang yang beriman serta beramal saleh. Keempat : Mengingatkan umat tentang adanya azab, siksa, dan neraka bagi mereka yang membangkang, berbuat zalim, atau mengingkari ajaran Allah. Kelima Memberikan contoh nyata dalam ucapan, sikap, dan perbuatan bagaimana menjalankan syariat Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dan Keenam membimbing manusia untuk memiliki budi pekerti yang luhur dan moralitas yang baik.

_Penggerak Kemakmuran Masjid_

Masjid yang makmur sering kali lahir dari imam yang memiliki bacaan yang indah (tartil) dan khusyuk, serta khatib yang retorikanya menggugah jiwa. Kehadiran mereka menjadi daya tarik utama bagi jamaah untuk mendatangi masjid. Kerinduan untuk melaksanakan shalat berjamaah adalah tanda hidupnya keimanan dan kecintaan seorang Muslim terhadap rumah Allah dalam ikatan ukhuwah. Suasana syahdu saat mendengar kumandang azan, berdiri merapikan shaf, serta mendengarkan bacaan Al-Qur'an dari imam menghadirkan ketenangan batin yang sulit didapat ketika shalat sendirian. Dan yang tak kalah penting adalah momen setelah shalat berjamaah sering kali diisi dengan tegur sapa, berbagi cerita, dan mempererat persaudaraan antar-sesama jamaah, suasana inilah yang saat ini kita rindukan.

Menjaga Konsistensi Ibadah, Imam harus bias memastikan bahwa ibadah shalat lima waktu sebagai tiang agama tetap tegak berdiri di masjid tersebut secara berjamaah. Menjaga konsistensi (istiqamah) dalam melaksanakan shalat berjamaah membutuhkan niat yang lurus, manajemen waktu yang baik, serta dukungan lingkungan sekitar, karena Shalat berjamaah memiliki keutamaan pahala yang dilipatgandakan hingga 27 derajat dibanding shalat sendirian (HR. Bukhari dan Muslim).

_Pendidik dan Pembimbing Umat (Mursyid)_

Masjid sebagai Pusat Edukasi (Pendidikan); bahwa Imam dan khatib memiliki peran strategis sebagai pusat edukasi dan garda terdepan dalam membimbing umat, karena Masjid sebagai pusat peradaban dan sumber pencerahan. Melalui khutbah Jumat dan kajian-kajian keagamaan, khatib dan imam berfungsi sebagai guru yang mencerdaskan umat. Mereka mengikis kebodohan agama dan memberikan fatwa atau solusi atas persoalan sehari-hari. Pembinaan tidak sekadar bersifat ritual, tetapi harus memberikan motivasi, edukasi, serta solusi nyata atas berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat/jamaah. Karena sejatinya Imam dan khatib yang berwawasan luas mampu mengarahkan jemaah pada pemahaman agama yang damai, toleran, dan sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menyejukkan.

Imam sebagai komando tertinggi dalam Shalat, kedudukan imam mengajarkan kedisiplinan dan persatuan. Jamaah dilarang mendahului gerakan imam, yang melambangkan ketaatan pada pemimpin yang benar dalam kehidupan sosial. Khatib memiliki panggung mingguan (shalat Jumat) untuk menyatukan visi umat, meredam konflik, dan menyebarkan pesan kedamaian (rahmatan lil 'alamin).

Refreshment (penyegaran) bagi imam dan khatib adalah untuk meningkatkan kualitas ibadah umat, memperluas jangkauan dakwah, dan menjaga relevansi pesan agama di tengah perubahan zaman. Sebagai pemimpin spiritual dan penyampai pesan, kompetensi seorang imam dan khatib harus terus diasah agar dakwah yang disampaikan tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga menjadi solusi atas persoalan umat. Berikut adalah hikmah penting dari pelaksanaan refreshment bagi imam dan khatib dalam penguatan dakwah yang dikelompokkan berdasarkan aspek manfaatnya:

Penguatan Kompetensi dan Kualitas Ibadah

Menyegarkan kembali pemahaman tentang hukum-hukum fikih terkait keimaman dan khotbah agar sesuai dengan tuntunan syariat yang sahih. Penguatan kompetensi dan kualitas ibadah adalah dua hal yang saling melengkapi dalam membentuk pribadi Muslim yang unggul. Kompetensi profesional yang kuat membuat seseorang bermanfaat secara keduniawian (habluminannas), sedangkan ibadah yang berkualitas menjaga hubungan spiritual dengan Allah SWT (habluminallah). Mukmin yang kuat (secara kompetensi dan spiritual) lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Ketika kompetensi yang hebat dibarengi dengan ibadah yang berkualitas, tidak hanya menjadi profesional yang sukses, tetapi juga hamba yang bertakwa. 

Memastikan bacaan Al-Qur'an (tajwid dan makharijul huruf) seorang imam tetap terjaga dengan baik demi sah dan khusyuknya salat berjamaah.

Refreshmen juga untuk Peningkatan kemampuan Retorika Dakwah, melatih teknik komunikasi dan retorika agar pesan-pesan yang disampaikan melalui khutbah lebih terstruktur, menarik, dan mudah dipahami jamaah.

_Relevansi dan Kontekstualisasi Dakwah_

Refreshmen Imam dan khatib sebagai upaya menyampaikan ajaran Islam agar selalu sejalan dengan perkembangan zaman dan mampu menjawab tantangan nyata yang dihadapi oleh masyarakat setempat. Dakwah tidak boleh sekadar menjadi pengulangan teks masa lalu, melainkan harus menjadi solusi konkret bagi persoalan kontemporer tanpa mengubah prinsip akidah dan syariat yang fundamental. Membekali khatib dengan wawasan baru mengenai isu-isu modern (seperti ekonomi syariah, literasi digital, kesehatan, dan sosial) agar materi khutbah tidak monoton. Mengubah pendekatan khutbah dari sekadar doktrin teoritis menjadi penyampaian solusi praktis atas masalah nyata yang dihadapi masyarakat.

Manajemen dan Ketahanan Masjid

Manajemen dan Ketahanan Masjid maksudnya adalah konsep pengelolaan tempat ibadah umat Islam secara profesional, transparan, dan berdampak luas, tidak hanya sebagai tempat shalat tetapi juga sebagai pusat peradaban dan benteng sosial-ekonomi masyarakat. Masjid yang tangguh (memiliki ketahanan) akan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, mengatasi krisis, dan secara mandiri mensejahterakan jamaahnya.

Dalam tradisi pengelolaan masjid di Indonesia (Panduan Dewan Masjid Indonesia), manajemen Masjid dibagi menjadi tiga aspek utama, yaitu; Pertama; Idarah (Manajemen Administrasi dan Organisasi), yang meliputi Pembagian kerja yang profesional antara ketua, sekretaris, bendahara, dan bidang-bidang khusus (pendidikan, sosial, pemuda). Pelaporan keuangan berkala yang dapat diakses oleh jamaah (melalui papan pengumuman, media sosial, atau aplikasi). Dan legalitas aset tanah secara hukum untuk menghindari sengketa di masa depan. Kedua; Imarah (Manajemen Kegiatan memakmurkan Masjid), yang meliputi; Menyediakan kegiatan untuk semua kalangan, mulai dari kajian anak-anak (TPA), remaja masjid, majelis taklim ibu-ibu, hingga lansia, dan Pengelolaan muazin dan imam yang fasih serta jadwal salat rawatib yang konsisten. Ketiga; Ri'ayah (Manajemen Fasilitas dan Infrastruktur), yang meliputi; Menjaga kebersihan tempat wudu, toilet, dan karpet salat sebagai prioritas utama, Menyediakan fasilitas bagi kelompok rentan untuk kursi roda dan ruang ramah anak, dan Penggunaan sistem audio berkualitas, CCTV untuk keamanan, dan QR Code (QRIS) untuk kemudahan zakat, infak, shodaqoh, dan lainya yang dikelola secara produktif. Bahkan Masjid dapat mendirikan unit usaha seperti toko sembako, minimarket, kupon air minum, atau penyewaan aula untuk operasional masjid tanpa terus-menerus bergantung pada kotak amal.

Perekat Persatuan Umat (Ukhuwah)

Ukhuwah (persaudaraan) adalah ikatan hati dan jiwa yang kuat yang menjadi perekat utama persatuan umat Islam serta bangsa. Kegiatan Refreshmen Imam dan Khatib diharapkan dapat membina khatib agar mampu menyampaikan pesan yang moderat (wasathiyah), menjauhi narasi provokatif, serta menjaga toleransi di tengah keberagaman umat. Menjadi wadah silaturahmi (ta’aruf) antar-khatib untuk saling bertukar pikiran, menyamakan persepsi, dan bersinergi dalam menghadapi tantangan dakwah di wilayah masing-masing, saling memahami kelemahan, kelebihan, serta kondisi masing-masing (Tafahuum), saling tolong menolong dalam keimanan dan taqwa (ta’awuun), juga saling memberi rasa aman, dukungan serta kepedulian (Takaful).

Melalui refreshment yang berkala, imam dan khatib tidak hanya bertindak sebagai pelaksana ritual ibadah, melainkan bertransformasi menjadi agen perubahan (agent of change) yang mampu membawa umat menuju kehidupan yang lebih religius, harmonis, dan berkemajuan. Dan pada akhirnya kita do’akan semoga nataragung.id selalu menjadi yang terdepan dalam menyajikan informasi terupdate dan mampu mengawal kemandirian bangsa yang unggul dan berdaya saing global. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

7 + 5 = ?
Berita Terkait