Romantika Asesor BAN-PDM: Perjalanan ke Lokasi, Sekolah Kecil, dan Harapan yang Harus Dijaga Perspektif Psikologi Terapan

ARTIKEL 20 Sep 2026 09:45 Admin NA
Romantika Asesor BAN-PDM: Perjalanan ke Lokasi, Sekolah Kecil, dan Harapan yang Harus Dijaga Perspektif Psikologi Terapan

Oleh: Dr. Aguswam Khotibul Umam, S. Ag., MA
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung/Asesor BAN PDM Propinsi Lampung

nataragung.id - Metro - Menjadi asesor BAN-PDM dalam visitasi akreditasi sekolah/madrasah bukan sekadar menjalankan tugas berdasarkan instrumen dan prosedur. Setiap visitasi memiliki cerita dan tantangannya sendiri. Ada sekolah yang mudah dijangkau, tetapi ada pula yang membutuhkan perjalanan panjang melewati jalan rusak, tanjakan, pegunungan, bahkan menyeberangi sungai. Perjalanan tersebut bukan hanya menguji ketahanan fisik, tetapi juga kesiapan psikologis asesor. Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, asesor tetap dituntut hadir dengan pikiran jernih, sikap tenang, komunikasi yang baik, serta kemampuan menjalankan tugas secara objektif. Namun, justru dari perjalanan tersebut muncul romantika profesi asesor. Setiap lokasi memberikan pengalaman baru dan memperlihatkan bahwa wajah pendidikan Indonesia sangat beragam. Ada sekolah yang berada di tengah keterbatasan, tetapi tetap berusaha memberikan layanan pendidikan terbaik bagi masyarakatnya.

Jumlah Siswa Sedikit Menjadi Sebuah Keluhan.

Salah satu cerita yang sering muncul dalam visitasi adalah kondisi sekolah dengan jumlah peserta didik yang relatif sedikit. Ruang kelas yang luas terkadang hanya diisi beberapa siswa. Kondisi tersebut tentu menjadi perhatian bagi kepala sekolah dan guru, terutama ketika jumlah peserta didik terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Dalam percakapan dengan asesor, kepala sekolah terkadang menyampaikan berbagai faktor yang menurut pengalaman mereka memengaruhi kondisi tersebut. Salah satunya adalah keberadaan sekolah-sekolah negeri di sekitar yang menurut informasi kepala sekolah menerima peserta didik dalam jumlah besar sehingga pilihan masyarakat terhadap sekolah mereka menjadi semakin terbatas.

Pernyataan tersebut perlu dipahami sebagai perspektif pihak sekolah, bukan sebagai kesimpulan bahwa sekolah negeri merupakan penyebab tunggal rendahnya jumlah siswa. Jumlah peserta didik dapat dipengaruhi berbagai faktor, antara lain kondisi demografis, aksesibilitas, pilihan orang tua, persepsi masyarakat, daya tampung, serta pola penerimaan murid baru. Karena itu, tugas asesor bukan mencari siapa yang salah, tetapi memahami kondisi sekolah berdasarkan data, fakta, informasi, dan konteks yang ada.

Antara Empati dan Objektivitas Asesor.

Mendengarkan keluhan sekolah membutuhkan empati, tetapi asesor tetap harus menjaga objektivitas. Inilah salah satu dinamika psikologis dalam tugas visitasi. Asesor mungkin merasa prihatin ketika melihat sekolah dengan jumlah siswa yang sedikit atau mendengar kekhawatiran kepala sekolah tentang masa depan lembaganya. Namun, rasa prihatin tidak boleh menggantikan data dan fakta. Asesor perlu mampu mendengar tanpa menghakimi, memahami tanpa kehilangan objektivitas, dan berempati tanpa mengabaikan eviden.
Sekolah dengan jumlah siswa sedikit juga tidak otomatis menunjukkan rendahnya mutu. Di dalamnya bisa terdapat kepala sekolah yang gigih, guru yang tetap mengajar dengan penuh dedikasi, serta tenaga kependidikan yang terus menjaga keberlangsungan layanan pendidikan. Dalam perspektif psikologi, kemampuan untuk tetap bertahan dan menjalankan tugas dalam kondisi yang penuh keterbatasan merupakan bentuk resiliensi. Resiliensi bukan berarti tidak mengalami tekanan, melainkan kemampuan beradaptasi dan tetap berfungsi secara positif ketika menghadapi kesulitan.

Di Balik Angka Ada Manusia dan Harapan.

Setiap visitasi pada akhirnya meninggalkan cerita. Ada cerita tentang perjalanan yang panjang, medan yang sulit, sekolah yang sederhana, jumlah siswa yang sedikit, guru yang tetap mengabdi, dan kepala sekolah yang terus mencari cara agar sekolah tetap dipercaya masyarakat. Allah SWT berfirman: “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
QS. Al-Insyirah [94]: 5–6. Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa keterbatasan tidak selalu berarti akhir dari perjuangan. Kesulitan dapat menjadi momentum untuk melakukan refleksi, menemukan kekuatan, dan mencari jalan perbaikan. Romantika asesor BAN-PDM bukan hanya tentang perjalanan menuju sekolah atau madrasah. Lebih dari itu, ia adalah perjalanan untuk memahami realitas pendidikan dari dekat—mendengar cerita, melihat perjuangan, menjaga objektivitas, dan menghargai harapan setiap satuan pendidikan. Di balik angka jumlah siswa terdapat cerita manusia. Di balik sekolah yang sederhana terdapat perjuangan. Dan di balik setiap visitasi selalu ada harapan agar pendidikan terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Akhirnya penting untuk dipahami bahwa menjadi asesor BAN-PDM adalah perjalanan yang tidak hanya menguji kemampuan profesional, tetapi juga ketahanan fisik, kematangan emosi, dan keluasan hati. Setiap perjalanan menuju sekolah/madrasah, setiap keterbatasan yang ditemukan, dan setiap cerita yang disampaikan warga sekolah menjadi bagian dari pengalaman yang memperkaya pemahaman tentang realitas pendidikan. Sekolah dengan jumlah peserta didik yang sedikit bukan sekadar persoalan angka. Di baliknya ada perjuangan kepala sekolah, dedikasi guru, harapan orang tua, dan masa depan peserta didik yang perlu terus dijaga. Karena itu, visitasi bukan hanya tentang menilai apa yang ada, tetapi juga memahami konteks, mengenali kekuatan, dan melihat ruang untuk perbaikan. Romantika asesor terletak pada kemampuan untuk tetap objektif dalam menilai, empatik dalam memahami, bijaksana dalam menyikapi, dan profesional dalam menjalankan amanah. Sebab, setiap sekolah memiliki cerita, setiap guru memiliki perjuangan, setiap siswa memiliki harapan, dan setiap perjalanan asesor selalu meninggalkan pembelajaran. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

1 + 2 = ?
Berita Terkait