Seri Buku: Makanan Khas Lampung. Kue Lapis dan Bejuluk Beadok, Lapisan Makna dalam Kehidupan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
SOSIAL DAN BUDAYA
•
10 Jun 2026 02:07
•
nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami tidak pernah sekadar makan. Setiap gigitan, setiap ritual, sarat akan petuah. Di tanah dusun yang hening, di tepian hutan bambu yang rindang di kaki Gunung Pesagi, hiduplah seorang gadis bernama Rukmini. Ia dikenal cerdas namun gelisah. Rukmini merasa hidupnya hambar, seperti adonan yang belum diberi rasa. Ia sering bertengkar dengan tetangga dan enggan menghadiri gotong-royong.
Menyadari kegalauan putrinya, sang ibu, Wanik Depati, tak menasihati dengan omongan panjang. Beliau hanya tersenyum lalu mengajak Rukmini ke dapur beratapkan rumbia. “Ajar aku membikin kuih lapis untuk hajatan di Punyimbang (gelar ketua adat/penghulu) nanti,” pinta sang Ibu.
Dengan lesu, Rukmini ikut mengadoni tepung. Namun, saat adonan dituang ke loyang, ia menyadari sesuatu yang aneh. Sang Ibu tidak menuang adonan sekaligus, melainkan setahap demi setahap. Lapisan pertama berwarna putih bersih, lalu dikukus hingga matang. Baru kemudian lapisan hijau daun pandan dituang di atasnya. Demikian seterusnya. Lapis demi lapis dibangun di atas lapisan sebelumnya.
“Mah, repot amat. Sekalian saja,” gerutu Rukmini.
Wanik Depati tertawa kecil. “Kamu lihat ini? Kue Lapis Legit ini seperti Bejuluk Beadok. Lapisan pertama adalah saat kau lahir. Kosong, putih, penuh potensi. Lapisan kedua adalah masa kecilmu. Lalu remaja. Lalu dewasa. Tidak ada yang bisa melompat ke lapisan paling atas sebelum lapisan bawahnya mengeras,” jelasnya sambil menekan loyang.
Ketika aroma rempah mulai memenuhi dapur, Rukmi bertanya tentang makna warna. “Putih seperti siger (mahkota) pengantin, Hijau seperti hamparan bumi, dan coklat seperti kayu manis yang kuat.” Sang Ibu mengangguk.
Waktu terus berjalan. Tulang belulang Rukmini terasa pegal. Ia mulai memahami bahwa hidup tidak bisa instan. Hari perayaan Cangget (pesta adat) tiba. Kue yang dibuat dengan susah payah itu disajikan. Saat acara puncak, Rukmini diminta oleh Punyimbang duduk di antara tetua adat.
Dalam adat masyarakat Lampung, Bejuluk Beadok bukan sekadar nama panjang yang merdu di telinga. Bejuluk adalah gelar kehormatan yang diperoleh sebelum menikah, sedangkan Beadok adalah gelar setelah menikah. Rukmini, yang sudah menunjukkan perubahan perilaku, dinobatkan dengan gelar. Tanpa gelar ini, menurut falsafah Piil Pesenggiri, seseorang belum dianggap sebagai pribadi utuh dalam tatanan sosial kemasyarakatan.
Gelar ini bukanlah sekadar atribut. Ia adalah representasi dari tanggung jawab.
Dalam naskah kuno yang tersimpan rapi di pustaka adat, disebutkan sebuah aksara kuno yang berbunyi:
“Adok ngedok ghik pesenggiri, tiyuh meghah gawi ratong.” (Terjemahan: “Gelar yang disandang harus dijaga dengan harga diri, agar kampung tetap berjalan dan kerja bersama terlaksana.”)
Analisis terhadap petuah ini sederhana. Gelar membuat seseorang “terlihat” oleh komunitasnya. Ia tidak bisa lagi bersembunyi setelah melakukan kesalahan. Ia wajib menjadi contoh. Di sinilah kita melihat bahwa upacara pemberian gelar adat (Cakak Pepadun atau Khatam Saibatin) tidak mengandung ritual yang bertentangan dengan syariat Islam. Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari, No. 6028, turun sebagai penegasan bahwa kemuliaan seseorang diukur dari budi pekertinya, bukan keturunannya semata).
Bejuluk Beadok adalah manifestasi material dari akhlak mulia. Ia sejalan dengan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa (Pancasila Sila ke-1) karena pengesahan gelar biasanya disertai doa dan syukuran kepada Allah SWT, serta sejalan dengan Sila ke-4 (Kerakyatan) karena gelar diberikan atas musyawarah masyarakat.
Rukmini tersadar. Lapisan dalam kue itu mengajarkan bahwa pribadi yang matang (dewasa) harus memiliki Pesenggiri (harga diri). Setiap gelar yang disandang membuat ia harus bersikap ramah (Nemui Nyimah). Dalam perjalanan pulang dari acara adat, Rukmini yang kini bergelar Suttan (gelar kebangsawanan) itu menyapa semua orang. Ia juga sadar, bahwa di atas lapisan pribadi yang tebal, ia harus bersosialisasi (Nengah Nyappur).
Keesokan harinya, terjadi musibah; genting rumah jiran hanyut diterjang hujan. Tanpa diperintah, Rukmini memanggul bambu. “Ayo kumpul, ini tanggung jawab kita bersama!” serunya.
Inilah puncak tertinggi falsafah Piil Pesenggiri, yakni Sakai Sambayan. Gotong royong. Ia adalah lapisan teratas kue kehidupan, yang di dalam adat Lampung, merupakan perwujudan Sakai Sambayan Bayan Khana Wati, yang secara filosofi berasal dari prinsip “saling menanggung”.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan asas tolong-menolong ini. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًاۗ وَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْاۗ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tuḫillû sya‘â'irallâhi wa lasy-syahral-ḫarâma wa lal-hadya wa lal-qalâ'ida wa lâ âmmînal-baital-ḫarâma yabtaghûna fadllam mir rabbihim wa ridlwânâ, wa idzâ ḫalaltum fashthâdû, wa lâ yajrimannakum syana'ânu qaumin an shaddûkum ‘anil-masjidil-ḫarâmi an ta‘tadû, wa ta‘âwanû ‘alal-birri wat-taqwâ wa lâ ta‘âwanû ‘alal-itsmi wal-‘udwâni wattaqullâh, innallâha syadîdul-‘iqâb
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar (kesucian) Allah, jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qalā’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula mengganggu) para pengunjung Baitulharam sedangkan mereka mencari karunia dan rida Tuhannya! Apabila kamu telah bertahalul (menyelesaikan ihram), berburulah (jika mau). Janganlah sekali-kali kebencian(-mu) kepada suatu kaum, karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya." (QS. Al-Maidah [5]: 2, turun di Madinah pasca Perang Uhud untuk memperkuat solidaritas umat Islam).
Lihatlah bagaimana Sakai Sambayan bersinar sangat terang dengan nilai Pancasila Sila ke-3 (Persatuan Indonesia) dan Sila ke-5 (Keadilan Sosial). Tidak ada perbedaan antara Pepadun (suku pedalaman) atau Saibatin (suku pesisir) saat menambal atap rumah tetangga yang bocor.
Epilog di pagi hari membawa kedamaian. Rukmini menghela napas lega. Dari dapur ibunya, ia belajar bahwa manusia adalah Kue Lapis.
Jika hanya satu lapisan, ia akan rapuh. Jika lapisan di bawahnya lembek, lapisan atas akan runtuh. Jika tidak ada proses pengukusan (cobaan hidup), semua adonan tidak akan pernah matang menjadi roti kehidupan.
Tersebutlah dalam lembaran lontar Kitab Kuntara Raja Niti, yang disimpan turun temurun, bahwa Buay Tumi (suku pertama di Lampung) hidup makmur karena memegang teguh prinsip “Sekala Bego Nuwo” – bersatu dalam harmoni. Harmoni itu hari ini kita sebut Bejuluk Beadok, yang mengikat jiwa kita pada tatanan, dan Kue Lapis, yang mengingatkan indra perasa kita pada manisnya gotong royong.
Saat kita memotong kue, jangan lihat ketebalannya. Lihatlah betapa lapisan itu saling menopang. Itulah masyarakat Lampung. Itulah Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
1. Makna Piil Pesenggiri & Falsafah Hidup Masyarakat Lampung. (Sketsa Nusantara, 2025)
2. H.R. Bukhari, No. 6028 (Tentang Akhlak Mulia)
3. QS. Al-Maidah: 2 (Tentang Tolong Menolong)
4. Serial Buku – Dapur dan Warisan: Cerita Makanan Adat Lampung (Mohammad Medani Bahagianda, 2025)
5. Nilai-Nilai Piil Pesenggiri dalam Perspektif Islam dan Pancasila (Garuda Kemdikbud, 2016)
6. Kuntara Raja Niti; Asal Usul Masyarakat Lampung (Lab Sejarah Ummetro, 2023)
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar